Usia kehamilan 2 bulan, embrio mulai berubah menjadi janin dan mulai membentuk jaringan fisik. Saat kontrol ke dokter kandungan, usia kehamilan saya memasuki 9 minggu. Saat melakukan USG, terdapat bentuk janin kecil sebesar 2,9 cm yang sudah mulai berbentuk. Saya bisa melihat bakal calon kepala, punggung hingga pantatnya πŸ™‚

Pada usia kehamilan 2 bulan, morning sickness terkadang masih terjadi. Hampir sama seperti usia kehamilan 1 bulan. Namun, perubahan yang lebih signifikan yang saya rasakan adalah perubahan fisik dan gejala-gejala lucu yang merepotkan suami.

Pernah lagi enak ngemil bakpao, tiba-tiba muntah. Kan, suami jadi ngepel rumah malam-malam. Jadwal tidur suami juga bakal berkurang, karena pas kita bangun mereka ikut bangun. Enggak ikut ngemil tapi menyiapkan camilan, nggak ikut minum tapi menyiapkan minuman. Begitu ya, suami?

Perut saya mulai membuncit, sedikit. Saya tidak suka memakai baju yang agak ketat. Memakai baju longgar dan besar adalah surga! (ups, tapi saya masih bisa pakai jeans). Ukuran kaki dan payudara juga jadi lebih membesar. Tapi, berat badan saat kehamilan bulan 1 dan kehamilan bulan 2 belum mengalami perubahan. Berat badan saya masih sama. Hal ini membuat dokter menganjurkan untuk menambah berat badan, paling tidak 1/2 kg per minggunya. Padahal saya sudah mengonsumsi banyak makanan, ngemil, vitamin hingga susu. Namun, entah kenapa berat badan masih belum meningkat.

Saya tipe perempuan yang memang β€˜sulit’ untuk gendut (mungkin karena metabolisme tubuh baik, ya *ngeles). Namun, pada masa kehamilan ini masalah berat badan sering membuat stres. Beberapa artikel yang saya baca ada yang mengatakan berat badan akan naik pada usia kehamilan 4 bulan. Semoga sebelum menginjak usia itu, saya sudah gendut sih ((semoga)).

Beberapa titik di tubuh menjadi sangat sensitif jika dipegang. Saat tidur, biasanya tidak merasa nyaman. Saya menyiasatinya dengan tidur bersama banyak bantal dan guling di sisi kanan kiri hingga kaki. Setelah pukul 19.00 WIB, rasa kantuk sudah tidak bisa diajak kompromi. Saya juga sering terbangun saat malam, haus dan lapar. Jika tidak segera bangun dan meminum atau memakan sesuatu, saya bisa pusing lemas dan mual tidak karuan.

Saya juga merasakan konstipasi yang cukup hebat. Pada usia kehamilan ini sedang bulan Ramadan, tentu saja konsumsi air dan serat berkurang. Konstipasi ini sangat mengganggu, apalagi jika perut rasanya begitu besar dan penuh. Saya pun tidak menyerah. Begini cara mengatasi konstipasi saat hamil. Saat berbuka dan sahur, mengonsumsi buah, sayur dan air putih yang cukup banyak. Walaupun nantinya, dimuntahkan kembali. Perjuangan jadi ibu masih baru dimulai. Ngga boleh menyerah, kan?

Terjadi juga perubahan kulit pada masa kehamilan. Jadi lebih gelap, kering dan kasar. Hal ini dipengaruhi oleh hormon, setelah melahirkan akan kembali normal kok (katanya sih begitu). Rajin saja memakai lotion, untuk menjaga kelembapan kulit. Rambut dan kuku juga akan tumbuh semakin cepat, lho. Its okay ya, mommy.

Area yang biasanya juga menjadi concern adalah pinggang yang pegal-pegal. Hal ini bisa juga dikarenakan kurang minum air putih yang cukup. Saya juga menyiasatinya dengan jalan-jalan setiap pagi. Biasanya memang terasa lelah, tapi lakukan secara bertahap saja. Jangan pilih rute terlalu jauh. Jangan jalan-jalan sendiri, ajak suami dan gandeng erat. Jangan lupa bawa dompet suami, lalu belanja sesuka hati πŸ™‚