Little muffin. Begitu kami bertiga memanggilnya. Biarpun sekarang besarnya lebih dari sebuah muffin, kami tetap melihatnya sebagai sosok yang manis dan menyenangkan. Kata orang yang pertama selalu deg-degan. Yang kedua, bisa lebih santai. Saya kurang setuju sih, karena kehamilan kedua ini buat saya tetap terasa seperti naik kora-kora. Penuh kejutan. Saya nangis sepanjang pagi dan sepanjang lorong rumah sakit di hari pertama tahu. Dan, sekarang saya sedang sangat menikmati kehamilan kedua ini.

Jika kehamilan pertama saya masih membuka telinga karena baru pertama kalinya. Kehamilan kedua ini lebih banyak menutup telinga rapat-rapat. Saya lebih fokus pada diri sendiri dan si makhluk kecil kedua dalam perut. Ketika saya menulis postingan ini, adalah bulan di mana dia mulai bergerak. Biarpun gerakan dan tendangannya belum kuat, tapi dia selalu bereaksi ketika Arthur bersuara.

Arthur, yang sekarang ini masih sibuk dengan dunianya sendiri akan punya banyak tugas berat. Menjaga dan menyayangi makhluk kecil kedua dalam perut. Saya sih nggak sabar lihat reaksi dia ketika adiknya sudah lahir nanti. Nggak hanya saya dan suami, pasti kehidupannya yang baru 2 tahun itu akan berubah.

Dear our Little Muffin inside, terima kasih sudah tumbuh dengan baik. Menguatkan Mama dan Papa setiap saat. Mengingatkan jika keajaiban dan keindahan itu juga datang saat merasa sedang gelap. Menunjukkan jika kuasa Allah itu melebihi segalanya, bahkan rencana manusia hanya butiran debu tak terlihat.

Mama, Papa dan mas Arthur menyayangimu. Kami juga sedang memperbaiki diri, menjadi sosok yang lebih baik saat kamu lahir nanti. Terima kasih, sayang. Cerita-cerita tentang kamu akan memenuhi postingan blog mama, bukan cuma demi page view dan engagement, tapi juga agar kamu bisa membacanya.

With Love,
Dari Mama dan sayangnya yang nggak pernah habis untuk Little Muffin