Sudah empat tahun, Ay. Gimana, masih cinta?

September 2018 ini genap empat tahun saya bekerja di KapanLagi Youniverse. Kantor pertama tempat saya berkerja. Cinta pertama bisa dibilang. Dan, saya-nya belum move on. Dari yang dulunya KapanLagi.com, KapanLagi Network dan sekarang KapanLagi Youniverse. Saya pun ikut bertumbuh dengan perusahaan yang semakin melebarkan sayapnya ini.

Empat tahun mungkin bisa dibilang singkat. Suami saya aja udah kerja di sini lebih lama, 7 tahun. Belum lagi teman kantor lainnya yang bahkan sudah lebih dari 10 tahun. Pastinya kantor bukan hanya tempat untuk 'bekerja' tapi juga 'menemukan diri sendiri' bahkan mungkin sudah ada yang menyebutnya 'rumah'.

Bisa dibilang saya 'menemukan diri sendiri' di kantor ini. Lulus kuliah tahun 2014 lalu, resmi menjadikan saya seorang freshgraduate sekaligus jobless yang ambisius. Jurnalis, penulis dan content writer adalah bidang pekerjaan yang saya buru. Iya, saya buru hingga ke Ibu Kota. Dapat pinangan dari salah satu media online di Jakarta membuat saya nggak bisa berkata-kata. Sayangnya, pinangan tersebut akhirnya tidak bisa saya iyakan. Patah hati? Sungguh-sungguh patah hati.

Jarak membuat orantua saya tidak rela anak perempuan ragil-nya berada terlalu jauh dari jangkauan. Lalu kalau tidak di ibu kota, saya bisa dapatkan pekerjaan impian di mana? Saya lalu mengambil keputusan 'putus asa' yang dilakukan semua freshgraduate. Lamar semua pekerjaan yang 'dirasa' cocok. Saya melamar jadi pegawai bank, customer service, PR Hotel hingga guru privat. Saya rasa saya melakukan deretan tes dengan baik. Terus masuk ke tahap-tahap selanjutnya ternyata nggak membuat saya merasa senang.

Suatu hari saya melihat lowongan pekerjaan sebagai content writer di salah satu media online ternama di Indonesia. Penempatan: Malang. Seakan saya punya harapan buat mewujudkan apa yang saya inginkan sejak lama. Bermodal tulisan review sebuah kafe di Malang, saya dipanggil untuk melakukan tes selanjutnya.

Hari itu tiba. Kantor yang satu ini agak berbeda dengan kantor-kantor media yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Jika biasanya saya mencuri waktu untuk bisa dandan dan ganti baju rapi di toilet kantor. Kali ini nggak perlu. Setelah bermotor 2 jam dari Kediri, saya langsung menjalani tes. Kaos bunga-bunga bawahan jeans dan muka kucel. Begitu kira-kira deskripsi penampilan saya kala itu.

Pertemuan pertama dengan mba Boo, manager yang sekarang jadi general manager di divisi saya bekerja. Lebih deg-degan dari ketemu Pimred di media lain sebelumnya sekalipun. Beliau nggak banyak tanya. Setiap kata yang keluar bener-bener to the point dan straight forward. Bisa bayangin kan suasana 'membeku' itu?

Begitu datang, saya langsung diminta untuk tes. Ada beberapa arahan yang diberikan, membuat 2 buah artikel dengan keywords dan brief yang ditentukan. Saya menulis sebaik yang saya mampu. Paling menarik adalah, saat wawancara.

Pengalaman wawancara di berbagai media yang dulu-dulu, paling tidak saya membutuhkan waktu 1 jam. Mulai dari memperkenalkan diri sendiri, menjabarkan isu terkini, menceritakan isi sebuah buku, menjelaskan skripsi yang saya ambil hingga percakapan berbahasa Inggris. Karena sudah sering, saya nggak terlalu cemas sih. Tapi, mba Boo berbeda. Beliau nggak menanyakan apapun. Mba Boo fokus membaca artikel yang saya buat, dan..

"Tulisan kamu sudah lumayan, lebih ke M-olto (nama brand) sih ini. Kamu aku kontrak setahun ya. Gimana?"

Saya membeku.

Sesingkat itu wawancara dengan Mba Boo. Beberapa hari kemudian, saya masuk kerja. Pertengahan Agustus 2014 tepatnya.

Hari pertama masuk kerja. Pertemuan kedua dengan Mba Aik, asisten manager yang sekarang jadi manager saya di kantor. Bisa dibilang Mba Aik ini adalah teman pertama saya di kantor. Yang paling tahu typo dan segala 'kebodohan' kala itu. Lalu ada Mba Dety, teman kedua yang selalu ngajakin saya makan siang bareng. Nisa, teman satu almamater yang bikin saya lebih santai di kantor. Tomi yang ngajarin nulis 'serius', mba Hesty, mba Wuri, mba Dinda, mba Teta, Dyah, Zaki dan Rizal yang belum terlalu saya kenal waktu itu.

Saya bekerja di divisi Content Brand. Yang sekarang namanya adalah Content Brand and Partner. Divisi yang tugasnya membuat konten tulisan berbayar dari berbagai brand. Baik untuk tayang di channel kami sendiri maupun di website klien. Menantang banget. Iya, setiap brief, deadline, revisi, rework dan approval dari klien selalu greget.

Masih inget banget waktu itu pertama kali nulis buat sa-habat ne-tle, d-ve, m-gnum sampai saya dipercaya handle satu website sendiri, m-zda. Menulis di m-azda bisa dibilang salah satu milestone yang berarti banget. Di sana saya belajar menulis berbagai genre dalam sehari. Yang biasanya hanya parenting atau beauty aja, kini bisa menulis musik, lifestle, news dan masih banyak lainnya. Saya makin mencintai pekerjaan ini.

Cinta itu saya wujudkan datang 1 jam lebih pagi dan pulang 1,5 jam sampai pernah 4 jam lebih lambat. Waktu itu saya gunakan buat belajar, memahami konteks brief dan membaca lebih banyak. Kerjaan nggak selamanya mulus-mulus aja, kan? Sebagai anak baru, saya menyadari banyak kekurangan. Sering sih dulu disindir-sindir teman yang lain kenapa nggak bisa pulang tepat waktu. Ya gimana lagi, suka aja ngejalaninya.

Pas udah dapet flow-nya, pernah juga ngerasa 'kurang tantangan'. Sok-sokan menantang ini menyeret saya ke dunia advertorial. Di sini saya makin 'tumbuh' dan cinta sama kerjaan ini. HAHA! Kerja keras ini diganjar promosi jadi Leader tepat setelah satu tahun dan best employee of the year. Kerja yang diapresiasi itu nyenengin. Kerja yang isinya cuma kamu dan kerjaan itu juga nyenengin. Tapi, kamu nggak pernah tahu apa-apa yang terjadi besok.

Kantor ini nggak cuma mempertemukan saya dengan diri sendiri. Tapi, juga mempertemukan saya dengan teman seumur hidup. Punya pacar di kantor itu nyenengin. Punya suami yang sekantor itu juga nyenengin. Mungkin karena kita dari divisi yang berbeda. Dari jomblo, punya pacar, jadi istri, hamil dan jadi ibu. Kantor ini bener-bener jadi saksi saya 'tumbuh'. Bahkan saya menghabiskan waktu hamil 9 bulan dengan bener-bener masih ngantor. Jumat masih ngantor, sabtu hari libur nasional. Minggu Arthur lahir. 2 hari setelah gajian.

Saya kira tantangan kerja itu cuma dari klien. Tapi enggak. Tantangan kerja itu ada pada diri sendiri. Perubahan itu saya rasakan setelah cuti 3 bulan pasca melahirkan. Terbiasa 'tenggelam' dalam pekerjaan lalu berhenti 3 bulan itu ngga mudah. Berat sih waktu itu secara pribadi.

Perubahan peran sebagai ibu juga mengubah dinamika bekerja di kantor. Yang biasanya jam 8 udah di kantor, sekarang ngga bisa. Dunia-nya Arthur menyeret saya untuk membagi waktu lebih banyak untuknya. Kadang saya juga ngerasa kehilangan diri sendiri sih. Lalu harus mencari flow yang baru. Saya sendiri juga ngga mau lepas peran sebagai ibu terlalu berlebihan. Ya, setiap orang kan punya pilihan.

Post power syndrome. Bisa dibilang saya mengalami hal itu. Nggak nyangka sih, bakalan merasakan post power syndrome di usia segini. Bukan di usia pensiun lho. But its true.

"Kalau berat jadi ibu, kenapa ngga resign aja?"

Pertanyaan ini sering kali muncul. Selain seorang ibu, saya juga individu yang ingin mencapai banyak hal. Kerja itu ngga cuma soal uang, tapi eksistensi yang nggak bisa dibeli, passion dan tentunya peningkatan kualitas diri. Emang nggak harus di kantor sih. Bisa di mana saja, balik lagi ke yang ngejalaninnya.

Sudah empat tahun, Ay.

Iya, sudah empat tahun tiap berangkat kerja baca Al-Fatihah. Berdoa agar apa-apa yang saya lakukan barakah. Kerja kan ibadah.