Kisah Si Belu, Anak dari Pulau Terpencil Yang Namanya Mendunia

Dear Arthur, cerita dongeng ini buat kamu. Baca, resapi, ambil apa-apa yang menurutmu berguna. Selamat berimajinasi, sayang.

Alkisah terdapat sebuah pulau kecil bernama Nomo Tamaro Timur (NTT). Pulau kecil ini menyimpan kekayaan alam yang begitu melimpah. Hasil laut, kebun, minyak hingga emas yang dimilikinya rasanya tidak pernah habis untuk diambil. Kekayaan pulau kecil ini begitu terkenal di seluruh dunia. Banyak para pelaut hingga saudagar kaya datang untuk membeli segala kebutuhan.

Di balik kekayaan yang dimiliki pulau ini, Masyarakatnya tidak hidup dengan bahagia. Setiap harinya mereka disibukkan dengan bekerja dan terus bekerja. Kesibukan ini membuat mereka tidak saling mengenal satu sama lainnya. Tidak saling bertegur sapa saat bertemu dan tidak saling membantu.

Para saudagar yang datang pun sering mendapatkan perilaku yang kasar. Tapi, mereka tetap datang untuk mendapatkan segala kebutuhan dengan harga yang murah dan kualitas terbaik.

Anak-anak di pulau ini juga tidak begitu ceria. Setiap harinya mereka sekolah hanya untuk bisa baca tulis dan menghitung. Setelah itu mereka pulang untuk membantu orang tuanya memanen hasil kebun. Namun, dari beberapa anak kecil yang ada di sana. Terdapat satu anak yang begitu periang, Ia suka tersenyum dan menyapa banyak orang.

Perkenalkan, namanya Belu. Ia adalah anak dari pedagang ikan yang sangat kaya di pulau. Ia dianggap aneh oleh sebagian orang karena suka tersenyum sendiri.

“Hai Safa dan Nudi, kalian sedang apa? Boleh aku membantu kalian.” ucap Belu riang.

Kedua temannya hanya menatap sinis, lalu pergi tanpa menghiraukan. Belu tidak menyerah, Ia melihat Pak Modi yang sedang membutuhkan bantuan membawa kelapa. Ia sigap berlari ke arah bapak tua itu dan membantunya.

“Tidak, pergi kau Belu.” ucap Pak Modi.

Biarpun sering diacuhkan, Belu tetap begitu ceria dan ingin memiliki banyak teman. Kejadian ini ternyata dilihat oleh sekelompok pedagang dari negara Tomoro yang terkenal begitu periang.

“Hai nak, siapa namamu? Kemarilah.” ucap Pak Nabon, salah satu pedagang.

“Nama saya Belu. Bapak pedagang dari luar pulau? Hendak membeli apa, mari saya bantu mencari.” Belu menawarkan bantuan.

“Baru kali ini aku melihat anak pulau NTT begitu riang dan peduli. Aku hendak mencari ikan segar. Bisa kau antarkan aku, nak?”

“Ayah saya pedagang ikan. Bapak mau coba lihat ke lapak keluarga saya?

“Bolehlah nak. Ajak aku ke sana.” ucap Pak Nabon senang.

Selama perjalanan ke lapak milik keluarganya. Belu memberi tahu Pak Nabon pedagang apa saja yang ada di sana. Ia begitu bersemangat. Pak Nabon diam-diam kagum dengan si Belu. Begitu sampai di lapak, Pak Nabon membeli banyak ikan segar dari ayahnya.

Belu begitu gembira dan tidak berhenti mengucapkan terima kasih. Hal ini sangat jarang terjadi di pulau NTT. Pak Nabon memberikan Si Belu hadiah, berupa gitar kecil. Si Belu melompat riang gembira, lalu tiba-tiba ia terdiam.

“Pak Nabon, benda ini untuk apa ya?” tanya Belu polos. Semua pedagang tertawa dengan tingkah si Belu ini.

“Ini namanya gitar, sebuah alat musik yang bisa mengeluarkan bunyi indah. Coba dengarkanlah,”

Pak Nabon memetik gitar dan menghasilkan musik yang sangat indah. Ia juga menyanyikan lagu yang bisa membuat orang bergoyang. Belu yang belum pernah melihat hal ini sebelumnya sangat menyukainya. Ia kemudian belajar cara memetik gitar dan menyanyikan lagu.

“Hai Belu, gitar ini bisa membawa banyak teman untuk kau. Cobalah.” kata pak Nabon dengan yakin. Mata Belu langsung bersinar-sinar mendengarnya.

Setelah pulang sekolah dan membantu orang tuanya, Belu rajin belajar memetik gitar. Bahkan, ia juga menemukan nada baru dan ingin menciptakan sebuah lagu yang riang. Setiap hari ia melatih kemampuannya, menari dan bernyanyi. Ia begitu senang. Ia berpikir semua teman dan masyarakat NTT akan lebih bahagia dengan adanya musik yang ia buat.

Suatu sore, ia membawa gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Beberapa teman yang mendengarnya pun mendekat. Mereka penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Belu.

“Ayo teman-teman, ikuti aku menyanyi dan menari.” ucap Belu sambil memberikan contoh gerakan.

Teman-temannya yang lain pun ikut tertawa, menyanyi dan menari bersama Belu. Sejak saat itu mereka sering bermain bersama, saling menyapa saat bertemu dan menawarkan bantuan satu sama lain. Suatu hari, Belu dan teman-temannya menyusun rencana untuk mengajak semua orang menyanyi dan menari bersama.

“Bagaimana kalau kita menyanyi bersama saat festival dagang? Di sana ada banyak pedagang dan pembeli yang datang. Pasti ramai sekali.” kata Safa, salah satu teman Belu memberikan ide.

“Wah, itu ide yang bagus Safa. Tapi kalau hanya dengan satu gitar, suaranya tidak akan sampai ujung pulau.” ucap Nudi.

Belu kemudian mempunyai ide untuk membuat alat musik lagi yang suaranya keras. Ia dan teman-temannya menyusun kayu berbentuk balok lalu memukulnya dengan batang kayu. Ia beberapa kali mencoba memukul tapi tidak kunjung mendapatkan bunyi yang diinginkan.

“Hai Belu, bukan begitu cara membuatnya.” Pak Nabon tiba-tiba muncul di belakangnya.

Pak Nabon mengajari anak-anak untuk membuat Cajon, atau alat musik perkusi berbentuk kotak yang dimainkan dengan jari dan tangan. Anak laki-laki sibuk menyamakan nada, sedangkan anak-anak perempuan membuat gerakan tari yang enerjik.

Festival dagang pun berlangsung dengan ramai. Banyak pembeli dari berbagai negara yang datang untuk memborong hasil alam pulau NTT. Di tengah acara, Belu meniup peluit yang begitu keras. Semua orang terdiam dan melihat ke arah Belu.

Ia tersenyum dan mulai memainkan musik. Anak-anak yang mainnya berhamburan untuk mengajak semua orang menari dan menyanyi bersama. Awalnya semua masyarakat NTT hanya terdiam dan ingin marah, namun lama kelamaan ikut menikmati alunan musik dan menari.

Festival dagang berlangsung sangat meriah. Semua orang bergembira, saling melempar senyum dan menari bersama. Tidak ada lagi kata kasar dan tidak peduli. Semenjak hari itu, masyarakat NTT jadi lebih bersahabat dan peduli terhadap sesama.

Si Belu memiliki banyak sahabat yang sangat menyayanginya. Setiap hari mereka bermain, menyanyi dan menciptakan hal-hal menarik untuk bersenang-senang.

Para saudagar dan pembeli dari luar pulau pun bertanya-tanya. Siapa anak lelaki hebat yang berhasil menjadikan masyarakat NTT lebih bersahabat. Semua orang menjawabnya “Si Belu.”

Kini, Si Belu dari pulau terpencil pun namanya mendunia.