Sebagai seorang Mama, ada banyak ragu yang mengganggu setiap detiknya. Saat Mama berangkat kerja, saat kamu hanya berdua dengan Papa, bahkan saat kamu jaraknya hanya sejengkal dari Mama. Ragu apakah kamu mampu. Dan Mama merasa keliru.

"Sayang, ngapain itu. Sini aja yuk sama Mama"

"Mas Arthur nggak capek lompat terus?"

"Mas, nggak mau makan ini aja?"

Kalimat ini entah sudah berapa kali saya lontarkan setiap harinya. Bagi beberapa orangtua, mungkin kalimat di atas juga terasa wajar dan tidak ada yang aneh. Memastikan kebutuhan nutrisinya tercukupi, tidak terlalu lelah, memastikan dia bermain dengan aman, selalu ceria dan lain sebagainya. WAJAR. Bahkan, kebanyakan sudah menjadi 'tradisi' jika ada beberapa hal tentang anak yang kurang sesuai dengan 'penilaian pada umumnya' orang yang paling disalahkan adalah orangtuanya.

"Anaknya kok nggak tidur siang sih, orangtuanya ngapain?"

"Cara makannya kok gitu, nggak diajarin orangtuanya?"

"Tanah kok dijadiin mainan, nggak dibeliin orangtuanya?"

Familiar dengan kalimat di atas? Saya yakin, setiap orangtua ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Apapun bentuknya. Namun, ada beberapa kondisi yang terkadang tidak bisa dipaksakan. Saya sendiri mulai megesampingkan pandangan 'umum' orang-orang kebanyakan. Cuek dan tutup kuping rapat-rapat.

(c)ayumiranti.com

Arthur bisa dibilang anak yang nggak mau didikte. Awalnya, saya kira karena dia masih dalam proses belajar saja. Lama kelamaan dia akan mengikuti perintah yang terus saya ulang setiap harinya. Saya juga tipe ibu yang percaya kalau ia akan menirukan apapun yang saya dan Papa-nya lakukan. Ternyata saya salah. Arthur punya caranya sendiri dalam melakukan banyak hal dalam kesehariannya.Tanpa mencontek siapapun di rumah, dia punya cara sendiri.

Dalam beberapa waktu, dia suka sekali melempar bantal, guling dan selimut ke lantai. Setiap saya rapikan, dia selalu meletakkannya kembali di bawah. Karena capek merapikan, saya menyerah. Arthur ternyata ingin membuat sebuah camp. Ia menata sendiri bantal, guling dan selimut dan tiduran di sana. Sekarang, ia bahkan membawa buku, mainan, botol minum dan banyak barang ke camp miliknya. Ia sedang bermain, dengan caranya sendiri.

Arthur sempat terlalu sering untuk menolak makan. Saya menyerah sampai ngajakin dia ke KFC (yang tadinya selalu berhasil). Tapi, hasilnya nihil. Saya kira dia bosan dengan jenis makanan dan suasana makan di rumah. Ternyata, dia ingin didengar. Arthur beberapa hari nggak mau nasi. Ternyata dia mau kentang rebus, labu siam rebus, ayam goreng saja, minum jus, potongan buah, sereal dan oats. Dia ingin makan sendiri, bukan disuapin.

Saya hanya meletakkan beberapa mangkok makanan whole foods (tidak diolah, kecuali ayam goreng ungkep) di tempat bermainnya. Dia makan sendiri, dengan kombinasi makanan yang diinginkan. Dia ambil minumnya sendiri, mau teh, air putih atau susu. Dia memilih sendiri dan makannya banyak.

(c)ayumiranti.com

Anak pertama saya ini adalah tipe anak yang aktif. Tidak pernah betah duduk di satu tempat yang sama dalam waktu yang lama. Yah, namanya juga anak laki-laki. Mungkin kalau sedang dengan Papa, dia bisa beraksi dengan bebas. Kalau sedang dengan Mama, naik meja TV aja Mama sudah deg-degan. Fenomena melihat Arthur jatuh, terbentur, bibirnya berdarah, kepalanya benjol, kakinya luka itu momen yang membuat saya down.

Di depan dia sih saya bilangnya 'gppa sayang, you are okay'. Sambil peluk, saya minta maaf dalam hati ribuan kali. Kalau dia sudah tenang, saya menunjukkan kecemasan di pelukan Papanya. Tetap sambil minta maaf dan googling cara mengatasi luka pada anak serta gejala apa saja yang membuatnya butuh pertolongan medis.

Di rumah kami, ada beberapa spot yang dijadikan Arthur sebagai 'challenge arena'. Mulai dari naik jendela tralis, naik meja menjahit, naik meja makan, dan yang terbaru naik ke meja TV. Dia beberapa kali jatuh dan tersangkut di meja TV dan nggak bisa turun. Beberapa waktu yang lalu, dia sudah bisa naik dengan mudah lalu bersantai di bagian depan TV sambil berdiri, sambil duduk, dan sambil joged. Itu yang dia namakan bermain, dan dia belajar dari setiap prosesnya. Pas ngeliat momen itu, saya bangga dia bisa menyelesaikan 'misi' yang dia buat sendiri.

(c)ayumiranti.com

Sebagai seorang ibu, tanpa sadar saya seakan punya 'kendali penuh' atas setiap aspek kehidupan Arthur. Iya, Arthur memang masih 2,5 tahun akhir bulan ini. Tapi, bukan berarti dia nggak punya pilihan. Setiap anak itu unik dan istimewa, yang bisa dilakukan hanya percaya.

Mas Arthur, MAMA PERCAYA kamu bisa melakukan banyak hal dengan sudut pandang dan caramu sendiri. Apapun itu. Bagaimana pun bentuknya. Jadilah dirimu sendiri, MAMA PERCAYA.

Mama yang sedang baca postingan ini, mau mulai percaya juga?

With Love,
Ay.