"Pada setiap pertemuan-pertemuan dengan 'calon rumah', selalu ada rasa degdegan ini bakalan cocok atau enggak. Rasanya kayak ketemu gebetan buat pertama kalinya."

Keputusan buat punya rumah sendiri jadi komitmen besar yang saya dan suami buat tahun 2018 ini. Alasannya, kami ingin tumbuh bertiga saja. Kami ingin Arthur tumbuh menjadi dirinya sendiri. Tanpa harus dicampuri oleh banyak perspektif lain di sekitarnya.

Pencarian rumah baru ini membawa saya dan suami untuk keluar masuk perumahan dan rumah bekas yang kemungkinan berpotensi. Tapi, belum ada yang sreg di hati. Bukan hanya karena harga properti yang makin melambung tinggi, tapi juga belum pas saja. Belum jatuh cinta.

Setiap mau lihat rumah, saya selalu degdegan. Wah, yang ini bakalan cocok nggak ya? Saya sih lebih ke merasakan suasananya, terus bayangin Arthur nanti bakalan lari-larian di seisi rumah. Suasana masak di dapur dan nonton tv bareng, itu sih yang ada di kepala. Sedangkan suami pasti lebih mikirin luas bangunan, kualitas bangunan, harga, cicilan, akses sekolah bla bla bla. Itulah kenapa saya sayang banget sama suami saya, HAHA.

Dari beberapa 'pertemuan' dengan calon-calon rumah, saya belajar kalo cari rumah itu kayak cari jodoh. Kadang, kamu nggak perlu punya banyak alasan untuk suka. Bahkan, pada pandangan pertama. Saya lagi nungguin banget sih momen itu datang.

Buat Papa, kalau mungkin sedang baca. Kita akan menemukan yang kita suka untuk hidup bersama bertiga. Inhale.. exhale.. inhale.. exhale..